Drought water (Please help us)

Kita tahu Indonesia menganut dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada saat angin barat mulai berhembus. Angin ini berhembus dari wilayah Asia menuju benua Australia. Biasanya angin ini terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari, dan maksimal pada bulan Januari dengan kecepatan minimum 3 m/s (kenceng juga ya!). Musim kemarau kebalikan dari musim hujan yaitu terjadi ketika angin dari benua Australia berhembus ke arah benua Asia. Dikatakan kemarau ketika curah hujan berada pada kisaran kurang dari 60mm per bulan.

Saat ini musim kemarau baru saja melewati bulan September. Ini pertanda bahwa akan datangnya musim hujan yang memang telah diprediksi akan dimulai bulan Oktober untuk wilayah Indonesia. Tanda-tanda akan datangnya hujan akhir-akhir ini memang terlihat. Seperti ditandai dengan mulai adanya awan mendung, kumpulan awan yang menumpuk diatas gunung/pegunungan dan angin barat yang khas ‘baunya’.

“Hujan oh hujan kami merindukan kalian..”

Harapan diatas merupakan pengharapan bangsa Indonesia yang memang sedang dilanda kekeringan panjang. Sudah banyak daerah yang mengalami kekeringan, contohnya saja daerah Malang. Daerah ini padahal dikenal daerah yang dingin. Dalam pandangan orang awam biasanya daerah dingin identik dengan banyaknya air. Ada benarnya juga namun bukan berarti daeran malang tidak bebas dari kekeringan. Daerah ini sekarang sedang mengalami yang namanya kekeringan metrologis yang berkaitan dengan tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu musim.

Saya sendiri pun berharap kepada Allah agar segera menurunkan rezekinya dalam bentuk hujan. Sedikit tidak tahan untuk tidak mandi dalam waktu dua hari. Untuk wudhu saja susah apalagi untuk mandi dan mencuci yang membutuhkan air yang ekstra. Mesin sanyo yang sedianya untuk menarik air dari sumur sudah tidak mampu lagi mencapai permukaan air alias air di sumur sudah sangat sedikit sekali untuk disedot ke atas. Namun, diantara itu semua kami masih bersyukur dibandingkan tempat lain yang bahkan air untuk minum sangat susah sekali didapatkan.

Seharusnya hal ini tidak perlu terulang setiap tahunnya. Pemerintah harus mencari solusi agar permasalahan ini cepat selesai dan tidak diulang-ulang. Coba bayangkan misalkan saja setiap tahun pemerintah mengeluarkan biaya 10 milyar untuk masalah kekeringan. Jika itu dilakukan selama 10tahun maka pemerintah sudah mengeluarkan biaya 100milyar (tanpa disertai hitungan inflasi).

Di Indonesia ini sudah ada contoh yang mungkin bisa ditiru oleh pemerintah. Terlepas dari semua kontroversinya, Ponpes Al-Zaytun – Indramayu telah membangun sedikitnya 2 buah waduk. Satu waduk tadah hujan dan waduk yang satunya lagi waduk dari aliran sungai. Saya tidak tahu pasti berapa biaya yang dikeluarkan, namun yang pasti daerah sekitar pospes Al Zaytun yang dulunya daerah yang sangat tandus sekarang sudah berubah daerah subur. Otomatis karena stok air melimpah Al Zaytun dan daerah sekitarnya tidak pernah lagi mengalami kekeringan yang saat ini saya rasakan. Inilah mungkin salah satu investasi masa depan yang harus dibangun oleh pemerintah. Biaya diawal memang berat namun berdampak luas bagi kehidupan selanjutnya.

Waduk Windu Kencana memanfaatkan aliran sungai

Waduk Istisqo' memanfaatkan hujan

Masih banyak contoh yang bisa ditiru oleh pemerintah yang semestinya tanggap dengan hal-hal yang berabau sensitif ini. Semoga kedepannya bangsa yang mendapatkan julukan negara agraris ini menjadi bangsa yang tidak pernah mengalami kekeringan. Amien.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s